Budaya dan Tradisi Masyarakat Suku Bugis – Hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu tentang ciri khas starlight princess suku Bugis. Padahal, suku Bugis termasuk salah satu suku di Indonesia yang memiliki beragam kesenian dan budaya yang unik. Suku Bugis sendiri menoleh suku bangsa yang tinggal di pulau Sulawesi. Ciri khas yang sering terlihat dari suku ini adalah uang panai dalam acara pernikahan. Berbicara uang panai, pasti banyak orang yang langsung tahu tentang hal tersebut. Seperti dalam penjelasan kali ini terdapat pembahasan tentang uang panai yang menjadi ciri khas dari suku Bugis.
Adat Masyarakat Bugis
Ritual Naik Tojang
Budaya suku Bugis yang pertama ini dilakukan kepada bayi. Ketika bayi mulai diayun, maka keluarganya akan mengadakan ritual naik ayunan atau istilah lokalnya Naik Tojang. Dalam prosesi naik ayunan, akan dipasangkan contengan kapur sirih pada ayunan. Sebelum bayi diletakan di dalam ayunan, didahului dengan memasukkan sapu lidi, seekor kucing, dan anak lesung batu. Setelah itu, barang-barang tersebut dikeluarkan dan dibersihkan. Kemudian bayi akan dimasukkan ke dalam ayunan untuk ditidurkan.
Ayunan bayi yang digunakan berupa kain kuning diikat dengan tali. Pada sambungan tali dengan kain, harus digantung pisang dan cabai. Sementara itu, pada bagian bawah ayunan, harus buah botol berisi air putih yang telah ditulis dengan Lam Jalalah (lam alif) pada dua sisinya. Sebagai informasi, Lam jalalah merupakan huruf lam yang terdapat dalam lafaz Allah.
Paduppa Bosara
Tari Pakarena
Uang Panai
Uang Panai yang Sakral
Besaran Uang Panai
Makkuluhuwallah
Tradisi lokal selanjutnya yang masih dipertahankan oleh masyarakat Bugis adalah ritual kematian, Makkuluhuwallah. Rangkaian acaranya dilakukan selama tujuh malam, dimulai setelah jenazah dikuburkan. Meskipun merupakan ritual, namun dalam prakteknya melibatkan pembacaan Al-Qur’an. Ritual ini diperkirakan telah muncul sejak tahun 80-an dan diprakarsai oleh tokoh agama setempat.
Penamaan ritual Makkuluhuwallah sendiri, diambil dari ayat pertama surat al-Ikhlas (Qul Huwallahu) yang memiliki imbuhan “ma.” Ini merupakan bagian dari bahasa Bugis dan kemudian disambungkan dengan Qul Huwallahu, yang berarti sedang melakukan pembacaan surat Al-Ikhlas. Biasanya di hari pertama pelaksanaan ritual, keluarga akan anak-anak dari pondok pesantren. Setelah itu, pembacaan Al-Qur’an akan dilanjutkan oleh masyarakat yang datang agar slot777 menghibur keluarga yang berduka. Tak hanya bagi orang tua, anak-anak juga diajak untuk melakukan tradisi ini.
Ritual Mappadendang
Ritual Mappadendang adalah wujud ritual panen masyarakat Bugis yang wajib diikuti oleh seluruh petani. Para petani akan menumbuk padi dalam lesung panjang yang disebut palungeng. Biasanya palungeng memiliki enam hingga dua belas lubang. Sementara untuk slot88 resmi menumbuk padi, digunakan alu. Saat melakukan ritual, setiap pemukul padi harus bersolek dan mengenakan pakaian khas tradisional Bugis yakni Baju Bodo. Dulu ritual ini dilakukan hampir di seluruh wilayah Sulawesi Selatan ketika musim panen tiba.
Namun sayangnya, tradisi ini mulai ditinggalkan meski ada beberapa daerah yang masih mempertahankannya. Selain bentuk suka cita atas hasil panen yang berlimpah, ritual Mappadendang juga terus diadakan untuk mempertahankan warisan budaya leluhur. Ritual ini dilakukan selama tiga malam berturut-turut.